Pages

RELAWAN

RELAWAN

Jumat, 03 Januari 2014

Sepenggal Catatan HAMKA

 Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan namanya, (lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik.

Hamka juga merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, ia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, ia menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.
 
Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, ia dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, ia meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti.

Hamka juga banyak menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya lain seperti novel dan cerpen. Pada tahun 1928, Hamka menulis buku romannya yang pertama dalam bahasa Minang dengan judul Si Sabariah. Kemudian, ia juga menulis buku-buku lain, baik yang berbentuk roman, sejarah, biografi dan otobiografi, sosial kemasyarakatan, pemikiran dan pendidikan, teologi, tasawuf, tafsir, dan fiqih. Karya ilmiah terbesarnya adalah Tafsir al-Azhar. Di antara novel-novelnya seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli juga menjadi perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura. Beberapa penghargaan dan anugerah juga ia terima, baik peringkat nasional maupun internasional.

Pada tahun 1959, Hamka mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, Kairo atas jasa-jasanya dalam penyiaran agama Islam dengan menggunakan bahasa Melayu. Kemudian pada 6 Juni 1974, kembali ia memperoleh gelar kehormatan tersebut dari Universitas Nasional Malaysia pada bidang kesusasteraan, serta gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo.




Inilah peperangan,
tanpa jeneral, tanpa senapang
pada hari-hari yang mendung
bahkan tanpa harapan

Di sinilah keberanian diuji
kebenaran dicoba dihancurkan
pada hari-hari berkabung
di depan menghadang ribuan lawan.











Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Haji_Abdul_Malik_Karim_Amrullah

Gunung : Gunung Bukan Tempat Sampah

Gunung memang menawarkan keindahan yang luar biasa untuk para pendaki. Seseorang akan merasa bangga apabila dirinya telah berhasil menaklukkan puncak gunung. Para pendaki akan menyimpan kenangan mendaki mereka selamanya untuk diceritakan kepada anak cucunya mereka nantinya.

Keindahan yang telah diberikan oleh pencipta alam ini kita lah yang turut menjaganya. agar selain cerita yang kita berikan kepada anak cucu kita, mereka pun bisa juga merasakan cerita yang kita berikan. Janganlah kita terlena dengan pendakian yang kita lakukan tetapi ingatlah bahwa kita juga harus menjaga kebersihan dari gunung itu sendiri.

Jangan hanya menjadi pendaki gunung, tetapi jadilah pecinta alam.

Saat mendaki hendaklah kita membawa kembali sampah-sampah yang kita hasilkan untuk dibuang ditempat sampah.

Seperti yang kita ketahui bersama, sampah plastik membutuhkan jutaan tahun untuk dapat terurai. Hal ini dapat merusak ekosistem yang ada tempat tersebut. Anggota Kompas USU mereka mengatakan “Jangan meninggalkan sesuatupun di gunung selain jejak kaki. Kalau tidak bisa membersihkan, minimal jangan membuat kotor” mereka bukan hanya berkata tapi, juga memberi contoh dengan carta mengantongi sampah mereka sendiri. “Jika tak sanggup untuk membersihkan gunung dari sampah. Paling tidak jangan meninggalkan sampah di sana.” 

Kita diberikan kenikmatan untuk melihat keindahan alam ini, maka dari itu kita juga harus bisa menjaga agar kenikmatan itu dapat terus bisa dirasakan oleh generasi selanjutnya.





 SALAM LESTARI ...!

Senin, 30 Desember 2013

Disiplin Waktu

Pertama-tama kita definisikan terlebih dahulu pengertian dari "disiplin". Menurut Wikipedia Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya.

Sedangkan waktu adalah sesuatu yang tak asing lagi didengar. Waktu yang kita punya dalam sehari adalah 24 jam. Dari waktu yang hanya 24 jam ini lah bagaimana kita bisa memanfaatkannya untuk melakukan segala hal yang bermanfaat. 

Disiplin diri dalam mengatur waktu yang ada sangat perlu untuk dipelajari. agar dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari bisa terkonsep dan terstruktur dengan jelas. Sedetik waktu yang ada sangatlah bermakna.Sedetik waktu yang tidak kita manfaatkan akan terbuang dengan sia-sia dan waktu itu tidak bisa terulang kembali.

Waktu yang kita dapat dimasa sekarang adalah jejak langkah kita untuk mendapatkan waktu di masa depan.

Berbicara tentang kedisiplinan dan komitmen untuk lakukan yang terbaik, budaya kerja bangsa Jepang bisa dijadikan sebagai contoh. Bangsa Jepang dikenal sebagai bangsa yang disiplin dan tingkat produktivitasnya tinggi. Berkat budaya kerjanya itu maka mereka bisa menjadi bangsa yang tingkat ekonominya sejajar dengan negara-negara maju di Eropa dan Amerika

Orang jepang terkenal dengan etos kerjanya yang luar biasa. Etos kerja ini memiliki peranan penting atas kebangkitan ekonomi jepang, terutama setelah kekalahan Jepang diperang dunia kedua. Dulu orang Jepang bukanlah orang yang memiliki etos kerja yang tinggi. Mereka tidak disiplin dan lebih senang bersantai dan menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang.


Namun kekalahan Jepang pada perang dunia kedua mengubah keadaan yang serba santai dimasa lalu. Ekonomi Jepang kacau balau, pengangguran dimana-mana. Saat itu mereka tidak punya pilihan lain selain bekerja dengan sangat keras agar bisa survive.  


Ciri-ciri seseorang yang disiplin waktu :

  • Orang yang disiplin waktu selalu punya jadwal. Ia tahu jelas kegiatan-kegiatannya beserta kapan waktu melakukannya. Kalau ia seorang pekerja kantoran, ia tahu apa-apa saja tugasnya hari ini, kapan harus dimulai dan kapan harus selesai. Ia juga tahu kapan masuk dan pulang kantor. Untuk ini mereka biasanya suka menggunakan jam tangan karena fungsi jam tangan yang mutlak sebagai pemberi tahu info waktu.
  • Orang yang disiplin waktu tak pernah meunda pekerjaan. Dia langsung melakukan kegiatan yang seharusnya dia lakukan.
  • Orang yang disiplin, tak hanya segera melakukan apa yang seharusnya dia lakukan tapi juga berusaha bekerja denagn cepat. Kalau tidak, sia-sialah jawal dan target waktu yang ia miliki.
  • Orang yang disiplin pilah pilih kegiatan yang bermanfaat dan tidak, lalu mengeleminisai jauh-jauh kegiatan yang tak berguna.

Rabu, 25 Desember 2013

"PULAU KIJANG" Kampoeng Q ...

Sebuah desa yang tidak terlalu besar, tetapi menyimpan begitu banyak kenangan. Di sini tempat ku dilahirkan, tempat yang selalu ku rindukan.Penduduknya yang terdiri dari beberapa suku bangsa yaitu Jawa, Minangkabau, Melayu, Banjarmasin, Bugis, dll. Hal ini membuat semua begitu indah, perbedaan membuat semua menjadi akrab. 


Mentari Pagi

Tepi Sungai

Tepi Sungai


Pelabuhan

Mushalla Al-Muqarrabien





Jepretan Di kampus ... ^_^


Gedung Rektrorat lama
Fakultas Bahasa dan Seni

KAMPUS TERCINTA "UNIVERSITAS NEGERI PADANG"


Sekretariat Korps Sukarela Palang Merah Indonesia Unit Universitas Negeri Padang (KSR PMI Unit UNP)

Gedung Fakultas Ilmu Pendidikan

Gedung Rektorat Lama

Jalan ke MKU

Gedung Mata Kuliah Umum

Gedung Fakultas Ekonomi


Gedung Pasca Sarjana

Gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Gedung Pustaka Pusat

Gedung Fakultas Teknik

Gedung Fakultas Ilmu Sosial

Gedung Fakultas Ilmu Pendidikan

Minggu, 22 Desember 2013

Kaum Muda Sebagai Agen Perubahan

Kaum muda adalah mereka yang memegang peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Kaum muda bisa menjadi seseorang yang membawa perubahan. Tentu perubahan yang diharapkan adalah perubahan untuk yang lebih baik. Semangat para kaum muda inilah yang sangat dibutuhkan agar terciptanya kemajuan sebuah bangsa. Dalam setiap zaman kaum muda selalu mejadi tulang punggung perubah kebijakan.

Kaum muda bertanggung jawab akan kondisi sosial, karena di pundak merekalah harapan-harapan dibebani. Kaum muda pulalah yang menjadi barisan terdepan yang akan membela bangsa ini.
Sebagai yang melanjutkan tongkat estafet sistem yang ada di masyarakat.

Sejarah telah membuktikan bahwa kaum muda yang telah berhasil membuat bangsa ini mempunyai satu tujuan, menjadi satu gerakan, satu kata untuk kebaikan bangsa.
Kaum muda pada saat itu sama-sama berikrar untuk menuju satu tujuan yaitu menuju Indonesia merdeka. Ikrar ini pula lah yang akhirnya menjadikan semangat baru untuk mempertegas cita-cita bangsa.

Di tengah kompleks nya masalah bangsa saat ini, masihkan peran kaum muda itu dianggap penting oleh masyarakat ?
Sikap kritis yang biasa kita lihat di media massa, mereka yang berteriak-teriak menentang sebuah kebijakan yang mereka anggap salah dengan melakukan anarkis, itu bukanlah sebuah sikap yang tidak mencerminkan seseorang yang intelektual. Aksi nyata yang harus diambil adalah dengan membuat gerakan yang solutif, gerakan yang dapat membuat masalah sosial selesai.

"Jangan mencaci maki kegelapan, tapi buatlah setitik cahaya di kegelapan itu"

Untuk itu, saatnya generasi muda menyerukan nilai-nilai kebaikan dengan menggunakan jaringan media yang sangat efektif, guna menumbuhkan rasa kepedulian antar sesama. Upaya ini akan dapat merubah pandang dan pemikiran, menciptakan keharmonisan, dan pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk saling berbuat kebaikan.

Di tangan kaum muda arah tujuan bangsa berada, apakah menjadi lebih baik ? ataukan semakin memburuk...

SIAMO TUTTI FRATELI

Sabtu, 21 Desember 2013

Sentuhan Kemanusiaan




"Semua orang di negeri ini bisa berperan aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. Berperan sebagai apapun agar bangsa ini menjadi besar. Namun dalam menjalani peranan kita, apakah telah disertai rasa cinta dan kasih sayang ? Bangsa ini perlu sentuhan-sentuhan kemanusiaan agar menjadi bangsa yang besar dan manusiawi."