Pages

RELAWAN

RELAWAN

Jumat, 04 November 2016

Sajak : Bisikan Lacah Merah


Ini adalah tempat dimana carut marut kota tak lagi berkutik
Hanya ada semilir angin, sayap-sayap belerang yang mengayun lembut
dan sekawanan rindu yang tersungut-sungut dari balik hati,
Torehan yang kau sematkan semalam menebar darah di setapak cinta
Semakin beringsut kakiku

Semakin lacah campuran luka dan air mata
Kakiku kini bermandikan lumpur merah
Kubasuh jua dengan bulir bening ini,
Namun bekasnya tersenyum manis dikulum,
Arealku kini lacah semua dari kaki sampai puncak hati,
kunikmati
Ini sangat ku nikmati,

Semakin keatas semakin mencuat rasionalnya,
Lacah merah benar-benar memelukku dengan hangat
Menjadi guide hingga aku mendarat dipuncak rasa yang lebur
Kini aku dipuncak keheningan

Aku cukup berdiam disini
Memeluk hati sendiri
Menjeruji mata dari gambaran wajahmu
Serta menciumi sisa-sisa lacah merah dan sayap belerang dengan sumringah

 


By. Nia Erisa
4 November 2016

Kamis, 03 November 2016

Senja Si Gadis Biru

Sore itu, entah sore yang keberapa kali aku berada lagi di tempat ini, tempat yang selalu bisa membuat aku menikmati indahnya dunia, di pantai dengan ombak yang menderu dan tentu saja sajian senjanya yang indah.

Tapi, sore itu aku di sini tidak sendirian, aku bersamanya, gadis biru yang membuat jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya, mata ku yang mencuri pandang menatap wajah menyenangkannya, lihatlah penampilannya, dengan jilbab lembut berwarna biru langit, pas sepadan dengan warna baju kaos trendnya.

Menatap takzim cakrawala dan deburan ombak yang seakan tak pernah berhenti untuk berkejaran merapat ke garis pantai.
Perbincangan sore itu sederhana dan masih tentang senja.

Dia berkata dengan sedikit tersenyum,
“Aku paling suka dengan senja , aku yang suka menatapnya Aku yang begitu tentram dan damai saat melihat senja dengan corak warna indahnya”.

Dia diam sejenak dan kubalas dengan senyuman terbaikku, dalam hati aku berkata :
“Aku suka menatapmu, seperti senjamu, wajah dengan senyuman yang begitu indah, seperti senjamu, juga membuatku damai dan melihatnya begitu menyenangkan, seperti senjamu”.

Senyum tipis misteriusnya kembali membuaku terpesona seakan mengetahui apa yang kukatakan dalam hati ini, setidaknya dia tidak dapat mendengarkannya.

Dia kembali berkata :
“Saatku menatap senja membuat masalah sejenak terlupakan, membuat tenang dan menjadi tempat ku mengadu segala hal”.

Aku mendengarkannya, kembali ku katakan dalam hati, “Tapi aku, saat ku menatapmu, saat ku berada disampingmu membuatku melupakan banyak hal, kau juga membuatku tenang, kuharap ku bisa seperti senjamu”.

15 menit yang indah, bersama menatap senja dan menikmati betapa dunia begitu membuatku bahagia.

-1412

Selasa, 27 September 2016

Perempuan yang ku tinggalkan

Hai senja...
Apa kabarmu hari ini ?
lagi lagi aku mengeluh kepadamu , mengadu tentang rasa yang sedang terombang ambing.
Hati yang saat ini sedang gundah, tentang makhluk yang namanya perempuan.

bolehkah aku sedikit bercerita senja ?
maukah kau untuk tetap mendengarkanku?

Aku ingin bercerita tentang seorang perempuan yang membuat jantungku ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Berada disampingnya bagaikan terbuai dengan hembusan angin sepoy yang menyejukkan.
Perempuan berhijab yang masih setia dengan birunya, dengan tampilan modis dan menarik untuk dipandang.

Matanya yang terkadang sedetikpun aku tak sanggup untuk menatapnya, mata itu terlalu indah dan bersinar. Ditambah dengan hiasan senyum yang sekilas disembunyikan tapi menarik.

Senja begitulah kira-kira gambaranku tentang dirinya,

Taukah kau senja apa yang ku rasakan saat ini ? sebuah rasa yang sebenarnya paling ku takutkan, kehilangan.

Saat terakhir kali aku bertemu dengannya di dermaga kayu tepian sungai Indragiri, perasaan hatiku tak setenang riak air sungai yang kala itu memancarkan bayangan mentari, tak sesejuk angin yang menggoyangkan pucuk pohon bakau yang banyak di sepanjang tepian sungai. Aku yang tak rela rasanya untuk pergi,  tapi itu adalah pilihan yang harus ku ambil untuk kelanjutan hidup ini.

Aku berkata pelan " sampai ketemu lagi".
dia membalas "iya, sampai ketemu lagi, entah kapan itu" Kalimat pendek yang membuat hatiku ngilu.

perih mendengarnya, tapi kupaksa untuk tetap kuat.

maaf senja aku terlalu banyak mengoceh? tapi, waktuku yang singkat bersamamu di sore ini lah yang bisa kupakai untuk bercerita .


Saat itu demaga menjadi saksi bisu, separuh hatiku tertambat di sana, separuh lagi tetap kuat . kupaksa untuk menguatkan.

terakhir ku berkata kepadanya "tunggu aku" dengan lantang seiring berjalannya speed boat yang memisahkan kami seakan tak peduli, hanya bisa terus melaju memecah air sungai .

Aku pergi dengan janji menjaga hati ini. tak akan ada rasa yang membuatnya berubah.

Terima kasih senja sudah mau mendengarkan ceritaku. Aku harap kau tak bosan bila ku datang lagi dengan cerita lain.

1412

PUISI : Ajarkan Aku

Engkau hadir bersama sepoy angin yang membawa kesejukan 
ketika diri dilanda kesedihan...
Hadirmu.. 
kau ajarkan aku cara bahagia... 
kau ajarkan aku rasanya cinta 
kau ajarkan aku cara untuk tersenyum...
Engkau pergi bersama mentari di ujung senja... 
disaat jiwa mulai belajar untuk memahamimu... 
kau lupa... 
saat kau pergi.. 
Kau tidak ajarkan aku untuk hidup dengan sepotong hati. 
kau tidak ajarkan aku rasanya sepi 
kau tidak ajarkan aku cara merindu... 
1412 
3 Ramadhan 
8-6-16

Selasa, 12 Juli 2016

Cakrawala, Selamat Jalan

Cerita kali ini masih tentang senja yang selalu menjadi temanku paling setia, tiap hari datang dan pergi tak pernah bosan. Senja yang selalu ku katakan, senja yang selalu misterius, senja yang tak pernah sama dan aku suka.

Ku harap cerita ini ada yang suka, tak membosankan seperti senja.

Semua berawal disaat sore itu. Aku masih setia mengantarkan mentari untuk perlahan pergi. Perhatianku kepada sosok yang ku kenal. Seorang gadis yang untuk kesekian kalinya aku melihatnya.
Kenapa aku mengarahkan perhatian kepadanya ?
ya... ada sesuatu yang membuatku memperhatikannya.

Seperti yang ku rasakan di penghujung sore dengan angin sepoy menenangkan, masih bersama senja, aku selalu senang, masalah yang mendera seakan hanyut terbawa ombak jauh dan membuatku tenang.

Tapi... Pandanganku masih tertuju kepada gadis yang duduk di atas batu yang tersusun rapi menjadi pemecah ombak itu, dia menatap kosong ke arah matahari yang bulat sempurna. Gadis yang kukenal dengan wajah cerianya, gadis yang ku kenal dengan senyum indahnya, gadis yang ku kenal dengan gaya anggun sederhana nya. Sore itu dia dengan jilbab abu-abu dengan bordiran bunga di tepiannya, baju kotak-kotak dominasi biru trendy dengan stelan rok jeans yang terlihat sederhana.

Bukan deskripsi yang ku sebutkan di atas yang membuatku tertarik memeperhatikannya menjadi alasan aku mengarahkan pandangan dan mengamatinya diam-diam. Tapi, aku melihat butiran air mata jatuh membasahi pipinya, dengan suara tangis terisak. Tangis pilu yang ku tahu itu adalah kekecewaan akan cinta yang dikhianati.

Ingin ku mendekatinya tapi ku tak berdaya. Hanya mampu menjadi pengamat dari jauh, dalam diam dan hanya mampu berbisik kepada angin agar tersampaikan kepadanya.

Gadis pilu yang dikhianati. Kepercayaan diganti dengan dusta dan pengkhianatan. Aku tau apa yang dia alami. Aku tau siapa dia , mengapa dia menangis senja ini. Dia yang tidak mengetahui selama ini aku terus memperhatikannya.

Dia korban dari permainan cinta yang telah kalah. Cinta yang dipercaya selama ini berpaling hati dan pindah ke singgasana lain. Ditinggal pergi menyisakan luka pedih besar menganga, menyaksikan dan mendengarkan cintanya berpaling. telah pergi dan hilang.

Aku... tetap menjadi pengamat setianya dari jauh melihatnya...

Dia masih menangis ...mencoba untuk memulai melupakan dan mengucapkan selamat jalan untuk dia yang telah pergi.. 
masih menangis... 
Masih memperhatikannya... 
masih pengamat dalam diam..

-1412

PUISI : Catatan yang Terabaikan


Pemuda malang yang terpagut harapan 
masih berdiri di depan pintu gubuk kecilnya 
menatap kabut perlahan turun di lembah penantian
Bermodalkan keyakinan diri dan sebuah janji 
percaya dengan Tuhan sang penulis catatan tentang takdir diri 
masih berdiri

seorang diri..
merenung dalam ....
kabut semakin menebal 
menyamarkan pandangan tentang keyakinan 
nyanyian alam mencoba mengingatkan

tapi tak terbendung, hati malah dilanda kesuraman

hei... pemuda malang... 
catatan yang kau lupakan... 
lihat kembali jejak yang telah kau buat...
 hasil tak akan berkhianat ... 
dia akan datang...
1412
4 Ramadhan 
9-6-16

Jumat, 27 Mei 2016

Inikah Rasanya Merindu ?


Aku masih di sini .
Mencoba untuk menutup sedikit rasa yang mengganggu setiap kali datang.
Secara tiba-tiba, begitu saja terlintas bayangannya.
Apa yang bisa ku lakukan?
Hanya bisa mengingat dan itu yang jadi pengobat untuk hati ini yang telah sedikit tergores.

Kadang kucoba membuka lagi foto lama bersamanya.
Memori yang indah saat senyumku masih tulus karena bersamanya.
Dia.
Pria di seberang daratan tempatku berpijak. Begitu sulit rasanya untuk menggapai raganya. Setiap waktu hanya bisa menanti kabar.

Ketahuilah aku di sinii bersama rasa rindu yang tak kunjung mereda. Mencoba mengisinya dengan seribu rutinitas.
 Tapi yang namanya rindu ....
tak kunjung mereda.
Hati yang telah bersatu tak bisa untuk diminta sebagian pergi apalagi dengan paksa membunuhnya dengan kejam. ..
Hanya terus mendamba.

Teringat seesaat sebelum kepergian di hari penuh pilu itu.
Terakhir pertemuan untuk sebuah perpisahan.
Waktu yang bisa berputar dengan cepat dan berlalu begitu saja kurasakan membeku tiba-tiba.
Disaat aku belum menyadari pegangan erat tangannya yang begitu hangat tapi berbeda.

Pria yang ku kenal selalu berwajah ceria, dengan mata tajam bersinar seperti bintang malam, senyum tipis mempesona yang tak pernah ku lupa.
Tapi sore itu....
Pria itu tak seperti yang ku kenal, wajah ceria tergantikan guratan sendu, mata tajam melukiskan kepiluan dan sinarnya meredup, senyum tipis telah hilang dan terhapus.

Sore yang seharusnya indah dengan jingganya dan alunan debur ombak yang biasa bak melodi cinta membuat kita terbuai. Hari itu menjadi sore terakhir ku lihat cakrawala bersamanya, jingga hanya terlihat kelam dan ombak terasa hening dan senyap tak lagi membuai.

Perpisahan harus dihadapi tapi kata-kata yang terucap dari mulutnya itu membuat goresan luka yang kau sembuhkan dulu kembali menganga. Aku tak sanggup berkata.

Ah .. sudahlah..
Aku tak bisa berbuat apa-apa perlu disadarkan diri ini yang hanya bisa terus bermimpi. Aku hanya gadis malang yang terus dalam penantian. Menahan tangisan saat rindu yang perih ini datang. Perlahan ku belajar untuk terus bertahan.

Banyak yang berubah...
Senja yang tak lagi menjingga,
Hujan yang tak lagi bisa melantunkan irama cinta,
separuh hati yang hilang bersama angin membawa keperihan dan cerita yang iba.

Entah sampai kapan...
ku kan sanggup bertahan...

-1412