Hai senja...
Apa kabarmu hari ini ?
lagi lagi aku mengeluh kepadamu , mengadu tentang rasa yang sedang terombang ambing.
Hati yang saat ini sedang gundah, tentang makhluk yang namanya perempuan.
bolehkah aku sedikit bercerita senja ?
maukah kau untuk tetap mendengarkanku?
Aku ingin bercerita tentang seorang perempuan yang membuat jantungku ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Berada disampingnya bagaikan terbuai dengan hembusan angin sepoy yang menyejukkan.
Perempuan berhijab yang masih setia dengan birunya, dengan tampilan modis dan menarik untuk dipandang.
Matanya yang terkadang sedetikpun aku tak sanggup untuk menatapnya, mata itu terlalu indah dan bersinar. Ditambah dengan hiasan senyum yang sekilas disembunyikan tapi menarik.
Senja begitulah kira-kira gambaranku tentang dirinya,
Taukah kau senja apa yang ku rasakan saat ini ? sebuah rasa yang sebenarnya paling ku takutkan, kehilangan.
Saat terakhir kali aku bertemu dengannya di dermaga kayu tepian sungai Indragiri, perasaan hatiku tak setenang riak air sungai yang kala itu memancarkan bayangan mentari, tak sesejuk angin yang menggoyangkan pucuk pohon bakau yang banyak di sepanjang tepian sungai. Aku yang tak rela rasanya untuk pergi, tapi itu adalah pilihan yang harus ku ambil untuk kelanjutan hidup ini.
Aku berkata pelan " sampai ketemu lagi".
dia membalas "iya, sampai ketemu lagi, entah kapan itu" Kalimat pendek yang membuat hatiku ngilu.
perih mendengarnya, tapi kupaksa untuk tetap kuat.
maaf senja aku terlalu banyak mengoceh? tapi, waktuku yang singkat bersamamu di sore ini lah yang bisa kupakai untuk bercerita .
Saat itu demaga menjadi saksi bisu, separuh hatiku tertambat di sana, separuh lagi tetap kuat . kupaksa untuk menguatkan.
terakhir ku berkata kepadanya "tunggu aku" dengan lantang seiring berjalannya speed boat yang memisahkan kami seakan tak peduli, hanya bisa terus melaju memecah air sungai .
Aku pergi dengan janji menjaga hati ini. tak akan ada rasa yang membuatnya berubah.
Terima kasih senja sudah mau mendengarkan ceritaku. Aku harap kau tak bosan bila ku datang lagi dengan cerita lain.
1412
Selasa, 27 September 2016
PUISI : Ajarkan Aku
Engkau hadir bersama sepoy angin yang membawa kesejukan
ketika diri dilanda kesedihan...
Hadirmu..
kau ajarkan aku cara bahagia...
kau ajarkan aku rasanya cinta
kau ajarkan aku cara untuk tersenyum...
Engkau pergi bersama mentari di ujung senja...
disaat jiwa mulai belajar untuk memahamimu...
kau lupa...
saat kau pergi..
Kau tidak ajarkan aku untuk hidup dengan sepotong hati.
kau tidak ajarkan aku rasanya sepi
kau tidak ajarkan aku cara merindu...
1412
3 Ramadhan
8-6-16
Selasa, 12 Juli 2016
Cakrawala, Selamat Jalan
Cerita kali ini masih tentang senja yang selalu menjadi temanku paling setia, tiap hari datang dan pergi tak pernah bosan. Senja yang selalu ku katakan, senja yang selalu misterius, senja yang tak pernah sama dan aku suka.
Ku harap cerita ini ada yang suka, tak membosankan seperti senja.
Semua berawal disaat sore itu. Aku masih setia mengantarkan mentari untuk perlahan pergi. Perhatianku kepada sosok yang ku kenal. Seorang gadis yang untuk kesekian kalinya aku melihatnya.
Kenapa aku mengarahkan perhatian kepadanya ?
ya... ada sesuatu yang membuatku memperhatikannya.
ya... ada sesuatu yang membuatku memperhatikannya.
Seperti yang ku rasakan di penghujung sore dengan angin sepoy menenangkan, masih bersama senja, aku selalu senang, masalah yang mendera seakan hanyut terbawa ombak jauh dan membuatku tenang.
Tapi...
Pandanganku masih tertuju kepada gadis yang duduk di atas batu yang tersusun rapi menjadi pemecah ombak itu, dia menatap kosong ke arah matahari yang bulat sempurna. Gadis yang kukenal dengan wajah cerianya, gadis yang ku kenal dengan senyum indahnya, gadis yang ku kenal dengan gaya anggun sederhana nya.
Sore itu dia dengan jilbab abu-abu dengan bordiran bunga di tepiannya, baju kotak-kotak dominasi biru trendy dengan stelan rok jeans yang terlihat sederhana.
Bukan deskripsi yang ku sebutkan di atas yang membuatku tertarik memeperhatikannya menjadi alasan aku mengarahkan pandangan dan mengamatinya diam-diam. Tapi, aku melihat butiran air mata jatuh membasahi pipinya, dengan suara tangis terisak. Tangis pilu yang ku tahu itu adalah kekecewaan akan cinta yang dikhianati.
Ingin ku mendekatinya tapi ku tak berdaya. Hanya mampu menjadi pengamat dari jauh, dalam diam dan hanya mampu berbisik kepada angin agar tersampaikan kepadanya.
Gadis pilu yang dikhianati. Kepercayaan diganti dengan dusta dan pengkhianatan. Aku tau apa yang dia alami. Aku tau siapa dia , mengapa dia menangis senja ini. Dia yang tidak mengetahui selama ini aku terus memperhatikannya.
Dia korban dari permainan cinta yang telah kalah. Cinta yang dipercaya selama ini berpaling hati dan pindah ke singgasana lain. Ditinggal pergi menyisakan luka pedih besar menganga, menyaksikan dan mendengarkan cintanya berpaling. telah pergi dan hilang.
Aku... tetap menjadi pengamat setianya dari jauh melihatnya...
Dia masih menangis ...mencoba untuk memulai melupakan dan mengucapkan selamat jalan untuk dia yang telah pergi..
masih menangis...
Masih memperhatikannya...
masih pengamat dalam diam..
-1412
PUISI : Catatan yang Terabaikan
Pemuda malang yang terpagut harapan
masih berdiri di depan pintu gubuk kecilnya
menatap kabut perlahan turun di lembah penantian
Bermodalkan keyakinan diri dan sebuah janji
percaya dengan Tuhan sang penulis catatan tentang takdir diri
masih berdiri
seorang diri..
merenung dalam ....
kabut semakin menebal
kabut semakin menebal
menyamarkan pandangan tentang keyakinan
nyanyian alam mencoba mengingatkan
tapi tak terbendung, hati malah dilanda kesuraman
hei... pemuda malang...
catatan yang kau lupakan...
lihat kembali jejak yang telah kau buat...
hasil tak akan berkhianat ...
dia akan datang...
1412
4 Ramadhan
9-6-16
Jumat, 27 Mei 2016
Inikah Rasanya Merindu ?
Mencoba untuk menutup sedikit rasa yang mengganggu setiap kali datang.
Secara tiba-tiba, begitu saja terlintas bayangannya.
Apa yang bisa ku lakukan?
Hanya bisa mengingat dan itu yang jadi pengobat untuk hati ini yang telah sedikit tergores.
Kadang kucoba membuka lagi foto lama bersamanya.
Memori yang indah saat senyumku masih tulus karena bersamanya.
Secara tiba-tiba, begitu saja terlintas bayangannya.
Apa yang bisa ku lakukan?
Hanya bisa mengingat dan itu yang jadi pengobat untuk hati ini yang telah sedikit tergores.
Kadang kucoba membuka lagi foto lama bersamanya.
Memori yang indah saat senyumku masih tulus karena bersamanya.
Dia.
Pria di seberang daratan tempatku berpijak. Begitu sulit rasanya untuk menggapai raganya. Setiap waktu hanya bisa menanti kabar.
Pria di seberang daratan tempatku berpijak. Begitu sulit rasanya untuk menggapai raganya. Setiap waktu hanya bisa menanti kabar.
Ketahuilah aku di sinii bersama rasa rindu yang tak kunjung mereda. Mencoba mengisinya dengan seribu rutinitas.
Tapi yang namanya rindu ....
tak kunjung mereda.
Tapi yang namanya rindu ....
tak kunjung mereda.
Hati yang telah bersatu tak bisa untuk diminta sebagian pergi apalagi dengan paksa membunuhnya dengan kejam. ..
Hanya terus mendamba.
Hanya terus mendamba.
Teringat seesaat sebelum kepergian di hari penuh pilu itu.
Terakhir pertemuan untuk sebuah perpisahan.
Waktu yang bisa berputar dengan cepat dan berlalu begitu saja kurasakan membeku tiba-tiba.
Disaat aku belum menyadari pegangan erat tangannya yang begitu hangat tapi berbeda.
Terakhir pertemuan untuk sebuah perpisahan.
Waktu yang bisa berputar dengan cepat dan berlalu begitu saja kurasakan membeku tiba-tiba.
Disaat aku belum menyadari pegangan erat tangannya yang begitu hangat tapi berbeda.
Pria yang ku kenal selalu berwajah ceria, dengan mata tajam bersinar seperti bintang malam, senyum tipis mempesona yang tak pernah ku lupa.
Tapi sore itu....
Pria itu tak seperti yang ku kenal, wajah ceria tergantikan guratan sendu, mata tajam melukiskan kepiluan dan sinarnya meredup, senyum tipis telah hilang dan terhapus.
Tapi sore itu....
Pria itu tak seperti yang ku kenal, wajah ceria tergantikan guratan sendu, mata tajam melukiskan kepiluan dan sinarnya meredup, senyum tipis telah hilang dan terhapus.
Sore yang seharusnya indah dengan jingganya dan alunan debur ombak yang biasa bak melodi cinta membuat kita terbuai. Hari itu menjadi sore terakhir ku lihat cakrawala bersamanya, jingga hanya terlihat kelam dan ombak terasa hening dan senyap tak lagi membuai.
Perpisahan harus dihadapi tapi kata-kata yang terucap dari mulutnya itu membuat goresan luka yang kau sembuhkan dulu kembali menganga. Aku tak sanggup berkata.
Ah .. sudahlah..
Aku tak bisa berbuat apa-apa perlu disadarkan diri ini yang hanya bisa terus bermimpi. Aku hanya gadis malang yang terus dalam penantian. Menahan tangisan saat rindu yang perih ini datang. Perlahan ku belajar untuk terus bertahan.
Aku tak bisa berbuat apa-apa perlu disadarkan diri ini yang hanya bisa terus bermimpi. Aku hanya gadis malang yang terus dalam penantian. Menahan tangisan saat rindu yang perih ini datang. Perlahan ku belajar untuk terus bertahan.
Banyak yang berubah...
Senja yang tak lagi menjingga,
Hujan yang tak lagi bisa melantunkan irama cinta,
separuh hati yang hilang bersama angin membawa keperihan dan cerita yang iba.
Senja yang tak lagi menjingga,
Hujan yang tak lagi bisa melantunkan irama cinta,
separuh hati yang hilang bersama angin membawa keperihan dan cerita yang iba.
Entah sampai kapan...
ku kan sanggup bertahan...
ku kan sanggup bertahan...
Jumat, 20 Mei 2016
Gadis Biru
Lihat dia,
masih berdiri di tepi bibir pantai disore ini, seorang gadis dengan jilbab biru lembut berbahan halus membuatnya begitu menawan, kaos biru cerah lengan panjang yang membuat aura dirinya memancarkan pesona stelan rok jeans yang membuatnya trendy dan santai.
Dia masih asik dengan senjanya, sedangkan aku masih membiarkanya dengan hal yang dia sukai itu. Menatap senja ... senja yang selalu berbeda, senja yang selalu misterius dengan warnanya, tapi itulah yang indah baginya saat ini.
Dia menatap dalam kearah titik lingkaran cahaya yang perlahan tenggelam di laut lepas. Melirik sekilas anak-anak yang berlarian di tepi pantai. Memandang cakrawala yang berwarna keemasan, suara debur ombak pun tak membuatnya hilang fokus dengan suara berisiknya. Gadis biru yang hanyut akan senjanya.
Lama aku tak berjumpa dengannya. Kini pertemuan setelah lama berpisah aku agendakan waktu untuk bersamanya, ketempat favoritnya. Masih dengan hal yang tak pernah kulupa dan masih menjadi kebiasaannya. Menatap senja.... Aku mengikuti caranya.
Pernah ku bertanya kepadanya, si gadis biru ini :
Kenapa ku menyukai senja?
jawaban yang ku dapat begitu sederhana, karena setiap senja tak pernah sama, hal itu tak pernah membosankan.
Aku suka caranya mengartikan senja....
Setelah lama berpisah, ku perhatikan tak ada hal yang berbeda dari dirinya. Masih tentang senja dan ada dua hal lagi yang masih sama.
Pertama , senyuman yang menentramkan jiwa.
Inilah yang membuatku terpesona dan suka kepadanya. Aku awalnya cuma tau bahwa pelangi adalah lengkungan yang indah diciptakan Tuhan. Ternyata ada yang lebih indah yang Dia berikan kepada seorang gadis beruntung di bumi ini, kepadanya. Lengkungan indah dari raut wajah selalu ceria. Lengkungan yang selalu mendamaikan jiwa dan membuat terpana.
Jika ia berkata melihat senja membuatnya tidak pernah bosan karena tiap hari berbeda. Menurutku melihat senyumya membuatku tak pernah bosan walaupun tiap hari selalu sama.
ya..Slalu sama indahnya.
Banyak hal yang mendefinisikan senyumnya membuat kata-kata akan habis terpakai. Biarlah yang sedikit ini cukup untuk mewakili penggambaran tentang dirinya.
Kedua, Dia yang selalu dengan birunya.
Dia yang menyukai senja dengan warna jingganya,
tapi aku menyukainya dengan birunya.
Aura terpancar saat ia mengenakan stelan biru. Warna yang menjadi favoritnya dan cukup mewakili tentang nya, terlihat cocok dengannya.
dia memang cocok sebagai “Gadis Biru”.
Jinga telah habis dan langit mulai gelap. Mentari beristirahat untuk besok mulai menyinari lagi.
Dia menatapku dengan senyuman yang tulus, dengan mata yang seolah menyampaikan “ temani aku kesini lagi esok hari”.
1412
Selasa, 17 Mei 2016
KSR PMI Unit UNP : Donor Darah , Bukti Nyata Untuk Berbakti
Korps Sukarela (KSR) Palang Merah
Indonesia (PMI) Unit Universitas Negeri Padang bekerja sama dengan Bank Mestika
melaksanakan Aksi Donor Darah pada Rabu (20/4). Acara ini berlangsung di
Pendopo Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNP.
Acara ini merupakan rangkaian dari
HUT Bank Mestika ke-61 yang bermaksud untuk menumbuhkan jiwa kepedulian dan
solidaritas antar sesama, juga untuk memenuhi kebutuhan darah di Kota Padang.
“Saya senang sekali melihat antusias
masyarakat yang tinggi, khususnya mahasiswa UNP, kepeduliannya tinggi” ujar
Irwansyah Lubis selaku Coorporate Secretary Bank Mestika.
Irwansyah mengatakan bahwa donor
darah yang dilaksanakan ini nantinya bisa bermanfaat dan untuk selanjutnya KSR PMI Unit UNP dapat
meningkatkan lagi program lain untuk menunjukkan kepeduliaan terhadap sesama.
“Terima kasih kepada pihak kampus
yang telah memberikan izin dan kesempatan melakukan kegiatan ini” ujarnya.
Acara kali ini begitu banyak menarik
antusias masyarakat, bukan hanya kalangan mahasiswa UNP, tapi juga
karyawan/staff di UNP dan prajurit TNI YONIF 133/Yudha Sakti. Kantong darah
yang didapatkan juga melebihi target .
KSR PMI Unit UNP setiap periode nya selalu melaksanakan kegiatan donor darah. Kegiatan ini adalah kegiatan rutin setiap 3 bulan sekali untuk membantu UDD memenuhi stok darah di Kota Padang.
setiap tahunnya, KSR PMI Unit UNP selalu mendapatkan pernghargaan dari Unit Donor Darah (UDD) Kota Padang sebagai Instansi Penggerak Kegiatan Donor Darah.
Kita sama-sama memahami, kebutuhan akan darah tiap tahun selalu meningkat, sedangkan stok darah yang ada terkadang tidak mencukupi kebutuhan darah. Tujuan KSR PMI Unit UNP menyelenggarakan kegiatan donor darah sebagai sosialiasi bagi seluruh civitas akademik Universitas Negeri Padang agar kegiatan ini menjadi gaya hidup. Sehingga kesadaran mahasiswa untuk mendonorkan darahnya semakin terbuka.
Minat dan antusias mahasiswa UNP sendiri dalam menyikapi kegiatan ini terus meningkat. Terbukti setiap tahunnya kegiatan donor darah yang dilaksanakan KSR PMI Unit UNP terus mengalami peningkatan pendonor.
Komandan KSR PMI Unit UNP, Ardanda Manjuto mengatakan bahwa kantong darah yang didapat berjumlah 483 kantong. “Semoga kerjasama yang dilakukan bersama Bank Mestika dapat berkelanjutan dan selalu mendapatkan dukungan pihak kampus secara penuh . Terima kasih kepada Bank Mestika yang telah bersama menyelenggarakan acara ini, semoga darah yang disumbangkan dapat bermanfaat untuk kebaikan umat manusia”ujarnya.
KSR PMI Unit UNP setiap periode nya selalu melaksanakan kegiatan donor darah. Kegiatan ini adalah kegiatan rutin setiap 3 bulan sekali untuk membantu UDD memenuhi stok darah di Kota Padang.
setiap tahunnya, KSR PMI Unit UNP selalu mendapatkan pernghargaan dari Unit Donor Darah (UDD) Kota Padang sebagai Instansi Penggerak Kegiatan Donor Darah.
Kita sama-sama memahami, kebutuhan akan darah tiap tahun selalu meningkat, sedangkan stok darah yang ada terkadang tidak mencukupi kebutuhan darah. Tujuan KSR PMI Unit UNP menyelenggarakan kegiatan donor darah sebagai sosialiasi bagi seluruh civitas akademik Universitas Negeri Padang agar kegiatan ini menjadi gaya hidup. Sehingga kesadaran mahasiswa untuk mendonorkan darahnya semakin terbuka.
Minat dan antusias mahasiswa UNP sendiri dalam menyikapi kegiatan ini terus meningkat. Terbukti setiap tahunnya kegiatan donor darah yang dilaksanakan KSR PMI Unit UNP terus mengalami peningkatan pendonor.
Komandan KSR PMI Unit UNP, Ardanda Manjuto mengatakan bahwa kantong darah yang didapat berjumlah 483 kantong. “Semoga kerjasama yang dilakukan bersama Bank Mestika dapat berkelanjutan dan selalu mendapatkan dukungan pihak kampus secara penuh . Terima kasih kepada Bank Mestika yang telah bersama menyelenggarakan acara ini, semoga darah yang disumbangkan dapat bermanfaat untuk kebaikan umat manusia”ujarnya.
Acara ini merupakan bukti nyata Bank Mestika , UDD Kota Padang dan KSR PMI Unit UNP yang selalu konsisten menyalurkan baktinya.
selain kegiatan donor darah, KSR PMI Unit UNP juga selalu rutin untuk melaksanakan kegiatan seminar tentang donor darah, agar mahasiswa memahami kenapa mereka harus mendonorkan darahnya.
Hal yang melatar belakangi kegiatan ini adalah masih banyaknya mahasiswa sebagai pemuda dan kaum intelektual yang belum mengetahui tentang donor darah dan manfaatnya, sehingga masih ada ketakutan dan masih percaya dengan mitos-mitos yang beredar tentang donor darah. Menurut data juga diketahui bahwa kebutuhan darah di Indonesia masih kurang sehingga sering terjadi kesulitan utk memenuhi permintaan, ini dikarenakan jumlah permintaan dari pasien yang membutuhkan lebih banyak dari pada pendonor yang ingin mendonorkan darah.
kegiatan donor darah dan seminar donor darah akan selalu rutin diadakan oleh KSR PMI Unit UNP. Kedua kegiatan ini untuk menunjang kegiatan PMI untuk terus menebarkan bakti nya untuk negara ini.
ditulis oleh : Yardi Ramdani
Foto : KSR PMI Unit UNP


