Pages

RELAWAN

RELAWAN

Senin, 23 Februari 2015

Gunung : Jadilah Pendaki yang Sopan

Jadilah pendaki gunung yang santun dalam perlakuan terhadap alam terutama gunung yang sedang didaki. Sebuah hal yang teramat sulit kita temui pada era sekarang ini, karena terlampau banyak pendaki gunung yang berkegiatan di alam terbuka karena hanya ingin di anggap pecinta alam. Hanya itu saja? Nama itu saja?



Pecinta alam atau siapa saja yang menyukai kegiatan di alam bebas seharusnya mengetahui bagaimana harus bersikap dan berperilaku yang santun saat berada di dalam hutan atau alam terbuka di wilayah pegunungan.

Bahkan yang tidak pernah berfikir untuk mendekati hutan sekalipun tidak salah mengetahui cara bersikap dan berperilaku yang bijak di dalam hutan, siapa tahu suatu hari nanti Anda memasuki hutan yang menjadi bagian dari mahkluk lain termasuk kita manusia.

Nah, jadilah pendaki gunung yang bijaksana dengan berperilaku bijak kepada gunung seperti berikut ini :
1. Tidak mencoret – coret batang pohon dan bebatuan yang ada di hutan. Perilaku mencoret – coret pohon dan bebatuan selain merusak keindahan keindahan hutan,  juga dapat menyakiti pohon. Karena tindakan ini dapat menutupi stomata ( tempat keluar masuknya udara, yakni CO2 dan O2 ) yang secara tidak langsung akan mengganggu pertukaran udara dari sel tumbuhan ke lingkungan dan sebaliknya. Hutan mempunyai peran penting dalam mengurangi pencemaran udara.

2. Tidak menangkap, melukai, dan membunuh hewan penghuni hutan. Perilaku mengganggu hewan ( satwa ) yang hidup liar di hutan meskipun binatang tersebut bukan termasuk hewan langka dan dilindungi dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

3.  Saat berkemah di hutan, pergunakan tempat yang telah tersedia. Atau jika tidak tersedia tempat berkemah, pergunakanlah bagian hutan yang agak lapang dan datar tanpa perlu menebang pohon, sekalipun hanya semak, perdu ataupun pohon kecil.

4. Tidak meninggalkan puntung rokok yang belum benar – benar mati. Meskipun hanya bara kecil tetapi puntung rokok bisa menjadi salah satu penyebab kebakaran hutan terutama saat musim kemarau.

5. Tidak meninggalkan sampah, terutama sampah anorganik seperti plastik dan kaleng. Sampah plastik membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk dapat terurai secara alami. Dan selama belum terurai, sampah plastik akan mengotori hutan, merusak siklus pertukaran udara di dalam tanah, meracuni tanah dan membahayakan makluk hidup di dalam hutan.

6. Simpan sampah yang kita hasilkan dalam suatu wadah khusus kemudian buanglah di tempat sampah yang semestinya atau dimusnahkan di luar hutan atau dimusnahkan. Akan lebih baik lagi jika sampah – sampah yang terdapat di hutan ikut diambil.

7. Pergunakan ranting atau daun yang telah patah atau jatuh saat membuat api unggun. Perilaku menebang pohon untuk membuat api unggun dapat merusak hutan.

8. Padamkan api unggun jika telah selesai hingga benar – benar padam termasuk bara api yang tersisa. Bersihkan tempat bekas api unggun tersebut.

9. Tidak membawa pulang tumbuhan atau binatang dari hutan. Simpanlah kenangan manis Anda selama berada di hutan di dalam kamera foto atau kamera video sebagai oleh – oleh.

Menjadi pendaki gunung yang bijaksana ini terlihat sederhana dan kecil namun memberikan manfaat yang besar bagi kelestarian alam dan hutan. Dengan perilaku bijak seperti ini berarti kita mampu menikmati tanpa menyakiti.

sumber : http://tngciremai.com/2013/04/jadilah-pendaki-yang-santun/

Minggu, 22 Februari 2015

PUISI : NO NAME

Semakin dikenang semakin terpojok
Dalam kemurungan yang tak terbatas
Dalam hujan lebat kucari bintang
sedangkan diriku kian terbuang
Diantara hari yang merangkak sepi

Embunkan dalam hati nuranimu
Memberaikan kusut didiriku
namun kemelut tak jua mencair
karena ku sadar.
ku hanyalah serpihan sampah yang hina

#1412

Senin, 16 Februari 2015

Gunung : Kabut Pagi di cadas Singgalang



Sabtu, 14 Februari 2015
09.00 WIB
Pagi itu kabut menyelimuti tower di kaki singgalang, salah tempat awal untuk mendaki gunung singgalang.Sedangkan puncak masih jauh di atas sana, masih menunggu kami untuk berjumpa. Dari Tower setidaknya butuh waktu sekitar 6-7 jam untuk sampai di Telaga Dewi, itu pun bila cuaca bersahabat. 

Cuaca dingin mulai terasa saat mentari perlahan menampakkan diri pagi itu, seakan mengerti bahwa kami butuh suasana hangat pagi itu. Segelas cappucino hangat membantu diri ini untuk melawan kedinginan.





Perlahan kabut mulai menipis, gagahnya sang mentari dengan sombongnya hadir di hadapan kami. Beberapa personil ada yang masih terlelap ditidurnya dan sleeping bad adalah tempat paling nyaman saat itu. Para personil lain belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke telaga dewi sehingga ambisi mereka meluap luap untuk mencapainya. 

Aku yang sudah pernah mencoba setahun yanag lalu tapi gagal sangat optimis untuk pendakian kali ini harus berhasil. Dan keadaan kali ini membuat kami semangat dan selalu meyakinkan diri.

Perlahan kami langkahkan kaki untuk menggapai telaga dewi yang menjadi ciri khas gunung singgalang. Dengan jalur yang sedikit sulit dengan jalan yang terjal membuat kami merasakan letih. Beberapa personil ada yang masih semangat dengan memimpin di depan sebagian lagi dengan nafas yang agak terengah mencoba mengembalikan nafas normalnya dengan istirahat.



Langkah demi langkah berlalu, Kini kita mulai saling mengenal satu sama lain. Selama perjalanan banyak canda dan curhatan. Menambah akrab suasana untuk menghibur diri yang di landa kelelahan.

Setelah 9 jam perjalanan, waktu yang lama dan melelahkan menghantarkan kami sampai di cadas singgalang. Kami memutuskan untuk camp di bawah cadas dan mengistirahatkan diri untuk melanjutkan perjalanan esok hari menuju telaga dewi yang tinggal kira-kira setengah jam lagi.

Tak ada kata lain saat itu selain tidur untuk menghilangkan kelelahan ini. Sementara beberapa personil sedang asik dengan api unggun nya.

Minggu, 15 Februari 2015
07.15 WIB
Pagi pun tiba dan kami di sambut dengan kabut dan kedinginan di cadas singgalang. Sejenak kami hangatkan badan dengan segelas energen dan menambah tenaga dengan sarapan pagi.
Kabut sepertinya enggan untuk beranjak dan perlahan semakin pekat. Menutupi pandangan kami tentang puncak.
Setelah semua tenaga telah  pulih, kami lanjutkan perjalanan menuju telaga dewi dengan melalui cadas yang licin. Melewati jalan yanag licin dengan kemiringan yang curam semangat tetap bergelora dalam diri.

Dan , akhirnya ... riak air telaga perlahan terlihat dan membuat semua kelelahan yang kami rasakan terobati dan hilang seketika. Inikah yang kata orang-orang telaga dewi ?
Ya. .. inilah singgalang dengan ceritanya. . dengan memberikan pengalaman baru dan juga teman-teman baru.
suatu saat ku akan kembali .

Selasa, 10 Februari 2015

Tips Mendidik Anak Agar Tidak Manja, Keras Kepala dan Dapat Mandiri





Dalam kehidupan berkeluarga, setiap orang tua tentu mengharapkan anak-anaknya dapat tumbuh menjadi anak-anak yang baik, dapat dibanggakan dan mempunyai karakter atau sifat-sifat yang positif dalam segala hal. Kebanyakan orang tua akan melakukan segalanya demi membahagiakan anak-anak mereka dengan memberikan segalanya yang mereka inginkan, namun ternyata hal ini tidak selalu baik dalam proses mendidik anak. Banyak anak yang dibiasakan hidup dengan kenyamanan dan tidak pernah merasa sulit dalam hidupnya cenderung menjadi manja dan tidak dapat mandiri. Sebagai orang tua, kita perlu berhati-hati dalam pengasuhan anak pada masa perkembangannya karena setiap didikan kita dapat berpengaruh besar bagi kehidupan sang anak di masa depan. Berikut adalah tips bagaimana mendidik anak dengan baik agar tidak manja, keras kepala dan dapat menjadi mandiri.

1. Jangan menuruti semua keinginan anak

Walaupun Anda sangat mencintai anak Anda, menuruti semua keinginannya bukanlah cara mendidik anak dengan benar. Tindakan tersebut hanya akan membuat anak Anda menjadi anak yang manja dan selalu mengandalkan orang lain. Jika sejak kecil anak sudah dimanjakan dengan mengikuti semua keinginannya, dampak ke depannya anak akan menjadi anak yang tidak mandiri dan malas karena selalu berpikir ada orang tua yang akan memberikan semua yang diinginkannya. Biasakanlah anak Anda untuk berusaha mengerjakan tugas mereka sendiri agar mereka dapat belajar bertanggung jawab untuk diri mereka sendiri.

2. Jangan terlalu banyak melarang

Rasa keingintahuan anak terhadap dunianya sering kali membuat mereka ingin mencoba melakukannya secara leluasa. Ketakutan orang tua adalah jika hal-hal terburuk terjadi pada anak Anda. Makanya kebanyakan orang tua memberi larangan atau batasan terhadap suatu hal yang bisa membahayakan anak. Larangan hanya membuat rasa penasaran bagi anak untuk melakukannya dan dapat menjadikan anak berbohong kepada orang tuanya. Komunikasi dua arah adalah solusi terbaik untuk mengingatkan anak alih-alih melarang anak melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan. Beri tahu mereka tentang risiko yang mungkin terjadi dan mintalah anak Anda untuk berhati-hati.

3. Ajar anak untuk tidak berbohong

Jangan sekali-kali memberikan contoh pada anak Anda untuk berbohong. Ajar mereka untuk selalu terbuka tentang keadaannya dalam segala hal, baik itu menyangkut perasaannya, atau kendala-kendala yang dihadapinya. Jangan membiasakan anak Anda tertutup tentang perasaan mereka terhadap Anda. Dengan cara ini, Anda sudah mendidik anak Anda untuk bertindak jujur dalam kehidupannya.

4. Jangan sekali-kali menghukum dengan kekerasan fisik

Sering kali Anda sebagai orang tua merasa marah atau kesal terhadap ulah atau kelakuan anak-anak Anda yang buruk dan cara ampuh untuk membuat anak jera adalah dengan hukuman fisik. Salah satu contoh tindakan hukuman fisik yang sering dilakukan kebanyakan orang tua adalah memukulnya. Entah itu menggunakan tangan, kaki atau benda-benda lainnya yang dapat Anda gunakan untuk memukul anak Anda. Hal tersebut sama sekali tidak dibenarkan. Jika Anda memiliki anak kecil dan ketika mereka melakukan suatu kesalahan, Anda dapat memberi tahu secara baik-baik dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka tanpa memberikan hukuman fisik dan jika Anda memiliki anak yang usianya mungkin sudah beranjak remaja atau sudah mengerti keadaan, Anda bisa menerapkan sistem disiplin terhadap mereka. Kekerasan fisik hanya akan membuat jiwa anak Anda terluka, bukan hanya fisik atau tubuh mereka yang terluka. Dan itu akan berdampak negatif pada pertumbuhan jasmani dan emosi mereka. Hukuman fisik dalam bentuk apapun hanya akan menakutinya dan akan membuat anak semakin tidak menghormati Anda, menjadi keras kepala dan memberontak terhadap Anda.

5. Kasih dan perhatian
Seorang anak akan merasa nyaman dan bahagia apabila orang tua mereka menunjukkan kasih dan perhatian pada saat anak memang membutuhkan hal itu. Kepedulian orang tua dalam hal sekecil apapun bisa membantu orang tua dalam mendidik anak. Perhatian bukan berarti berbicara tentang bagaimana Anda sebagai orang tua bisa memberikan materi atau barang-barang kesukaan anak, tetapi juga dalam tindakan, misalnya yang dapat Anda lakukan adalah ketika anak Anda belajar, saat itulah Anda bisa menunjukkan perhatian dan kasih Anda dengan cara menemani mereka, walaupun hanya sekadar duduk di sebelah mereka. Dengan demikian anak Anda akan lebih bersemangat dalam belajar dan apabila ada kesulitan, Anda dapat membantu anak memecahkannya.

Menjadi orang tua adalah tugas dan tanggung jawab yang mulia. Jadilah orang tua yang dapat dibanggakan oleh anak Anda. Didiklah anak Anda dengan baik, maka anak Anda akan memberikan sukacita bagi Anda dan keluarga.

Sumber : keluarga.com

Selasa, 03 Februari 2015

Public Speaking

Istilah public speaking terdiri dari dua kata: public dan speaking. Public artinya orang banyak, masyarakat umum, dan rakyat. Speaking artinya berbicara.

Kamus Merriam-Webster mengartikan public sepeaking sebagai " the act or skill of speaking to a usually large group of people". Public speaking adalah aksi atau keterampilan berbicara kepada sekelompok besar orang.

Laman Wikipedia mendefinisikan public speaking sebagai ""the process and act of speaking to a group of people in a structured, deliberate manner intended to inform, influence, or entertain a listening audience." Proses dan berbicara kepada sekelompok orang secara terstruktur guna memberikan informasi, mempengaruhi, atau menghibur".

American Heritage Dictionary memaknai public speaking sebagai "The act, art, or process of making effective speeches before an audience." Aksi, seni, atau proses menyampaikan pembicaraan efektif di depan audiens".

Masih banyak definisi public speaking lainnya dalam bahasa Inggris. Kita belum menemukan istilah public speaking dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mungkin karena masih sulit dicarikan terjemahannya. Istilah yang semakna dengan public speaking dalam KBBI adalah "pidato", yaitu "pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak".

Jenis-Jenis Public Speaking

Kita sepakati saja, public speaking adalah "berbicara di depan orang banyak", to speak before the public.

Jenis-jenis public speaking di antaranya pidato, ceramah, orasi, presentasi, menjadi pemateri diskusi, mengajar di kelas, memberikan briefing, memandu acara (MC/Pembawa Acara/Host), dan memimpin rapat atau berbicara dalam rapat.

Metode Public Speaking

Dari segi metode atau cara, dikenal empat jenis public speaking, yaitu
  1. Ad Libitum/Impromtu.
  2. Manuscript/Reading Complete Text.
  3. Memoriter/Memorizing.
  4. Extempore/Using Note.
Keempat jenis public speaking tersebut sekaligus juga sebagai empat cara menguasai materi public speaking.
  1. Ad Libitum/Impromptu --public speaking secara mendadak, tanpa persiapan. Dalam dunia siaran, Ad Libitum artinya berbicara tanpa naskah (script).

  2. Manuscript/Reading Complete Text --public speaking dengan cara membaca naskah pidato yang sudah disiapkan. Biasanya dilakukan pejabat negara atau mereka yang memberi sambutan di acara remi/formal.

  3. Memoriter/Memorizing --public speaking dengan menyampaikan hafalan naskah pidato.

  4. Ekstempore/Using Note --public speaking dengan bantuan catatan, pointer, garis besar materi (outline), atau slide materi yang ditayangkan di layar melalui infocus atau LCD Projector.
Cara public speaking "Using Note" dipandang sebagai cara public speaking terbaik karena bebas berimprovisasi, menjaga kontak mata, lebih komunikatif, dan pembicaraan "terkendali" dengan sistematika materi yang dibuat dalam catatan/makalah/slide.
(www.komunikasipraktis.com).*